Rahasia Dibalik Keramat Malam Satu Suro

Rahasia Dibalik Keramat Malam Satu Suro

malam satu suro

Banyak yang merayakan 1 Suro serta melihat sebagai hari sakral. Dengan cara kebiasaan turun temurun, umumnya orang menginginkan “ ngalap berkah” memperoleh barokah pada hari besar yang suci ini. Saat malam 1 Suro, umumnya orang lakukan laris prihatin tidak untuk tidur semalam jemu atau sepanjang 24 jam.

Kehadiran th. baru umumnya ditandai dengan beragam kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, ataupun beragam arak-arakan pada malam perubahan th..

Lain perihal dengan perubahan th. baru Jawa yang jatuh setiap malam 1 Suro (1 Muharram) yg tidak disambut dengan kemeriahan, tetapi dengan beragam ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Waktu malam 1 Suro tiba, orang-orang Jawa biasanya lakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tak tidur semalam jemu), serta tuguran (perenungan diri sembari berdoa).

Bahkan juga beberapa orang pilih menyepi untuk bersemedi ditempat sakaral seperti puncak gunung, pinggir laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro sudah di kenal orang-orang Jawa mulai sejak saat pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

 

Tidak sama dengan perayaan Th. Baru Kalender Masehi yang tiap-tiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta, orang Jawa tradisional lebih menghayati nuansa spiritualnya. Pemahamannya yaitu : Tanggal satu pada th. baru Jawa diperingati sebagai waktu dimulainya ada kehidupan baru. Umat manusia dari lubuk hati terdalam manembah, menghormati pada Yang Satu itu, Yang Tunggal, Yang Esa, yang awal mula membuat semua alam raya ini dengan semuanya berisi, termasuk juga manusia, yakni Gusti, Tuhan yang Maha Esa. Oleh karenanya peringatan 1 Suro senantiasa jalan dengan khusuk, orang bersihkan diri lahir batin, lakukan introspeksi, mengucap sukur pada Gusti, Yang Bikin Hidup serta Menghidupi, yang sudah berikan peluang pada kita semuanya untuk lahir, hidup serta berkiprah di dunia ini.

 

Pada malam 1 Suro ini mereka yang mempunyai senjata pusaka atau gaman bakal mencucinya. Orang Jawa umum menyebutnya dengan Penjamasan.

 

Artikel yang  tak kalah mistis:

Mengungkap Rahasia Khodam Sebenarnya

 

Untuk menjamas senjata pusaka seperti keris, tombak serta yang lain juga tak asal-asalan. Ada ritual spesial yang perlu dikerjakan seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan serta semua tetek bengeknya.

 

Mereka yakini dengan menjamas pada malam 1 Suro akan bikin pusaka mereka makin sakti. Tidak pelak, untuk orang-orang Jawa yang meyakini ritual ini, malam 1 Suro jadi begitu teramat utama. Dimensi gaib serta mistis pada malam ini begitu kuat.

 

Mengerti atas peluang teramat mulia yang didapatkan oleh Sang Pencipta, jadi telah semestinya manusia sebagai titah menggerakkan kehidupan di dunia yang waktunya terbatas ini, dengan berbuat yang paling baik, bukan sekedar untuk dianya serta keluarga paling dekatnya, namun untuk sesama mahluk Petitah Semesta dengan diantaranya melestarikan jagad ini, Memayu Hayuning Bawono. Tak salah jagad mesti dilestarikan, lantaran bila jagad rusak, di dunia ini tak ada kehidupan. Pemahaman ini sudah mulai sejak zaman kabuyutan di Jawa, dimasa lampau, sudah dengan sadar diakui seutuhnya oleh beberapa pinisepuh kita. Perayaan 1 Suro dapat dikerjakan dibanyak tempat serta dengan beragam langkah. Itu bergantung dari kemantapan batin yang melakukan serta dapat pula sesuai sama kebiasaan orang-orang setempat.

 

Pada intinya, orang Jawa suka pada kebatinan, suka lakukan tirakat seperti “ngurang-ngurangi”- membatasi bakal beberapa hal yang berbentuk keperluan atau kesenangan duniawi, agar memperoleh ketenangan hidup serta pencerahan spiritual.

 

 

Dalam orang-orang Tradisional Jawa sekurangnya ada 3 tingkatan dalam pengetahuan Kejawen :

1) Tingkat pertama : dimaksud dengan Kanuragan, di ambil dari kata “Raga” atau “Jasmani ”. Pada intinya tingkatan ini untuk beberapa anak muda, badan mereka jadi bisa kebal pada serangan benda tajam, seperti pisau, belati, bahkan juga hingga anti peluru. Berdasar pada dari hasil memproses raga ini, mereka lebih memercayainya sebagai tingkat kemampuan supranatural atau mistis.

 

2) Tingkat ke-2 : dimaksud dengan Kasepuhan, di ambil dari kata “Sepuh” atau “Tua”, pengetahuan ini umumnya dapat juga bisa untuk memnyembuhkan penyakit, walau demikian pada intinya ditujukan sebagai penghormatan hari lahir seorang atau di kenal dengan “Slametan Wetonan”, ; Slametan di ambil dari kata “Slamet” ; dengan diadakannya acara ritual ini diinginkan datangnya keselamatan untuk seorang, baik selamat dari mara bahaya atau sakit penyakit.

 

raja-pengasihan

3) Tingkat ketiga : dimaksud dengan Ngelmu Sejati ; Kasunyatan, pengetahuan ini untuk seorang yang baik serta bijaksana serta sukses meraih tingkatan ini dapat lihat dengan cara riil peristiwa yang berlangsung dalam kehidupannya atau kebenaran sejati. Dengan pengucapan lain telah tak ada lagi rahasia dalam kehidupannya ; semua jadi fakta.

 

Umumnya seorang yang sudah bisa hingga pada tingkat Kasunyatan kuranglah demikian memuaskan dianya, yakni satu pengetahuan mengenai yang kerap dijelaskan oleh orang Jawa Jumbuhing Kawulo Lan Gusti. Meskipun juga seorang sudah betul-betul faham mengenai ngelmu Kasepuhan, kadang-kadang mereka juga kerap cemas serta kerap juga tak temukan kedamaian sejati, mereka pergi serta mencari guru spiritual atau Guru untuk memperoleh wawasan yang kian lebih sebatas memecahkan masalah hidup.

 

Untuk kuasai pengetahuan Kasunyatan memerlukan saat yang begitu panjang sekali, lantaran hal semacam ini terkait dengan latihan kesetiaan atau untuk jadi setia, serta latihan memakai getaran kemampuan batin yang bersih. Cuma seorang yang betul-betul sudah masak umur, jujur, bijaksanalah yang bisa meraih tingkatan ini, dengan hal tersebut juga itupun mesti melalu sistem “perijinan” dari yang Maha Tinggi. Akhir kata demikian dahulu penjelasan yang dapat tersampaikan lewat aksara mudah-mudahan ada faedahnya untuk kita sekalian.

 

 

Untuk mereka yg tidak mempunyai pusaka juga tetaplah lakukan ritual spesial pada malam 1 Suro. Di Keraton Surakarta, warga sekitaran kerap lakukan ritual Mubeng Benteng (Mengelilingi Benteng Surakarta), ada juga yang lakukan ritual kungkum atau berendam di kali serta ada banyak lagi.

 

Keraton Surakarta serta Yogyakarta sampai saat ini masihlah melanggengkan ritual penjamasan keris pusaka setiap malam 1 Suro. Bahkan juga selesai dimandikan, air yang dipakai untuk penjamasan jadi rebutan warga. Mereka yakini air yang dipakai untuk memandikan keris pusaka itu memiliki kandungan tuah serta barokah.

MInyak Pelet Pengasihan

Beberapa orang Jawa juga menyakini kalau Bln. Suro sebagai bln. penuh kesialan, tersebut yang mengakibatkan pada bln. itu ‘dilarang’ lakukan pesta terutama pernikahan. Untuk mereka yang yakin itungan-itungan Primbon, pasti akan tidak mengadakan pesta pernikahan di Bln. Suro.

 

Dalam persepsi Islam, bln. sial seperti Suro pasti tak ada. Semuanya hari yaitu baik serta tak ada saat atau tanggal yang dapat membawa kesialan pada manusia. Timbulnya keyakinan mengenai bln. Suro sebagai bln. sial, hal semacam ini tak terlepas dari latar belakang histori jaman kerajaan tempo dahulu. Pada jaman dulu di Bln. Suro beberapa keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.